Legislator Sebut Reklame di Kota Bandung Semakin tak Terkendali

Anggota Komisi B DPRD Kota Bandung, Aan Andi Purnama menilai keberadaan reklame di Kota Bandung semakin tak terkendali dan sangat mengkhawatirkan. Selain itu, reklame juga telah merusak estetika Kota Bandung.
“Sudah sangat sangat mengkhawatirkan. Sayangnya Pemkot Bandung ternyata belum bisa menyelesaikan masalah ini,” keluh Aan di Gedung DPRD Kota Bandung, Selasa (22/3/2016).
Aan menngungkapkan, jumlah reklame ilegal diduga lebih banyak dibandingkan reklame berizin. Nilai kerusakan yang disebabkan oleh reklame ilegal tak sebanding dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari reklame berizin.
“Tahun ini saja PAD dari objek pajak reklame hanya sebesar Rp 12 miliar. Dibandingkan dengan daerah lain seperti Kota Surabaya sangat jauh tertinggal. Surabaya bisa memperoleh hingga Rp 120 miliar,” papar Aan.
Aan menduga, hal itu terjadi karena lemahnya aparat terkait dalam menegakan aturan termasuk melakukan penertiban terhadap reklame liar. Ini harus segera diselesaikan dengan rencana yang matang.
“Harus ada langkah-langkah tegas dan perencanaan program yang matang. Ini yang belum dimiliki Pemkot bandung,” tuturnya.
Aa mengatakan, tahun ini semua izin reklame sudah habis. Oleh karenanya, DPRD Kota Bandung mendukung langkah Pemkot Bandung yang akan meng-nolkan reklame di Kota Bandung. Ini menjadi momen yang tepat untuk Kota Bandung membenahi reklame yang ada.
“Ke depan jumlah reklame harus dibatasi. Saat ini baru 7 zona yang bebas reklame. Padahal sebetulnya banyak ruas jalan di Kota Bandung yang seharusnya menjadi kawasan bebas reklame, terutana jalan-jalan yang tidak terlalu lebar, seperti JLn. Riau riau, Cihampelas dan lainnya. Jika dipaksakan maka keberadaannya bukan hanya merusak estetika tapi juga menganggu pengguna jalan,” kata Aan.
Selain itu, lanjut Aan, bentuk reklame di Kota Bandung sebaiknya sudah mulai beralih mengunakan reklame digital. Hal ini agar estetika kota lebih terjaga dan lebih terkendali.
“Penggunaan reklame bilboard saat ini sudah tidak efektif, ukuran besar tapi pajaknya kecil sehingga ini yang jadi permasalahan,” katanya.
“Pemkot Bandung juga harus berani melarang reklame produk rokok di Kota Bandung. Setidaknya untuk di pusat kota, karena pemerintah kota harus menjaga generasi muda dari dampak reklame rokok tersebut. Nantinya reklame rokok di tempatkan di pinggiran kota dengan ukuran yang dibatasin,” lanjutnya.

Sumber:galamedia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s