Sepanjang Januari 555 Kasus DBD di Kota Bandung, 5 Meninggal Dunia

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat sebanyak 555 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang Januari hingga minggu awal Febuari 2016. Kelurahan Maleber, Kecamatan Andir, Kota Bandung menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 12 kasus.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung, Susatyo Triwolopo mengatakan, terdapat sejumlah kelurahan yang memiliki jumlah kasus terbanyak setelah Kelurahan Maleber. Di antaranya Kelurahan Sukarasa 10 kasus, Kelurahan Sekeloa sembilan kasus, Kelurahan Lebak Gede delapan kasus, dan Kelurahan Kebon Jeruk sebanyak tujuh kasus.
Kemudian disusul, Kelurahan Pajajaran, Sarijadi, Cigending, dan Margasari. Dimana di masing-masing Kelurahan itu tercatat sebanyak enam kasus DBD. Sementara untuk Kelurahan Cipedes, Sadang Serang, Balong Gede tercatat sebanyak lima kasus di tiap Kelurahan.
“Makanya untuk menindaklanjuti hal ini perlu ada kesadaran masyarakat untuk mencegah mata rantai penyakit ini, terutama dalam memelihara kondisi lingkungannya,” kata Sustyo saat dihubungi, Senin (15/2/2016).
Pihaknya mengaku, telah melakukan proses otopsi verbal terhadap sejumlah pasien DBD. Hal itu dilakukan untuk mengetahui seberapa parah penyakit DBD yang diderita pasien. Sebab penyakit DBD memiliki tiga tinggkatan.
Misalnya DBD hanya mencakup demam dengue, gejalanya pasien mengalami demam dan ngilu pada persendian, namun tak ditemukan adanya pendarahan. Untuk grade dua akan mengalami demam, gejala pendarahan, mimisan, dan bintik-bintik merah ditemukan dalam tubuh pasien.
Sementara, lanjut dia, untuk grade tiga atau dengue shock syndrom (DSS) biasanya pasien langsung dilarikan ke ICU. Sebab DBD pada tinggat demikian perlu mendapat penanganan segera.   
“Dari ratusan kasus itu lima orang tercatat meninggal dunia, saya juga enggak tau minggu ini ada tambahan atau belum,” ujar Susatyo.
Untuk penanganan kasus DBD, Susatyo menyayangkan laporan pihak rumah sakit yang berjalan lamban. Padahal bila sistem pelaporan data itu berjalan maksimal, pihaknya bisa langsung menindaklanjuti laporan dari rumah sakit. Bahkan rumah sakit bisa melakukan penyelidikan epidemologi untuk perlu

atau tidaknya melakukan fogging di daerah-daerah tempat pasien itu tinggal.
“Kami kan sudah punya SOP-nya, enam jam setelah ditegakan diagnosa, paling lambat enam jam sudah melaporkan ke Dinas Kesehatan. Tapi ini tak berjalan seperti yang diharapkan. Ada rumah sakit yang sudah beberapa hari baru melaporkan, sehingga penindakan di lapangan agak terlambat,” kata Susatyo.

Sumber: galamedianews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s